Minggu, 27 November 2011

MODEL KOMUNIKASI

Model Stimulus – Respons
Model ini merupakan model komunikasi paling dasar. Model ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Sebagai contoh bila seorang tersenyum kepada kita, maka kita akan membalas senyumannya, atau bila seseorang melotot kepada kita, maka kita akan merasa takut.
Model S – R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan dan tulisan), isyarat-isyarat nonverbal, gambar-gambar dan tindakan tentunya akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu (Mulyana, 2003).


Model Aristoteles
Model Aristoteles merupakan model komunikasi paling klasik dan meletakkan model komunikasi verbal yang pertama kali. Aristoteles mengemukakan 3 unsur dasar proses komunikasi yaitu : pembicara (speaker), pesan (massage), dan pendengar (listener).

Model Aristoteles ini juga disebut model retoris yang kini dikenal sebagai komunikasi publik. Aristoteles mengemukakan bahwa inti dari komunikasi adalah persuasi. Namun dalam model ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalah komunikasi dianggap sebagai fenomena statis, terfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima pendapatnya dan tidak dibawanya aspek nonverbal dalam persuasi (Mulyana, 2003).

Model Komunikasi Laswell
Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948. Model Lasswell ini sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Unsur sumber (who) merangsang pertanyaan mengenai pengendalian pesan, unsur pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi, saluran komunikasi (in which channel) dikaji dalam analisis media, unsur penerima (to whom) dikaitkan dengan analisis khalayak dan unsur pengaruh (with what effect) berhubungan dengan studi mengenai pengaruh (Mulyana, 2003).


Model Schramm
Wilbur Schramm membuat serangkaian model komunikasi mulai dari model yang sederhana, kemudian model yangmemperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu (Mulyana, 2003). Schramm menyatakan bahwa komunikasi senantiasa membutuhkan 3 unsur yaitu : sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination).
a. Model Sederhana Schramm
Sumber dan encoder adalah satu orang, sedangkan decoder dan sasaran adalah seseorang lainnya dan sinyalnya adalah bahasa.
b. Model Schramm yang memperhitungkan pengalaman dua orang
Sumber dapat menyandi dan sasaran dapat menyandi balik pesan, berdasarkan pengalaman masing-masing. Bila kedua lingkaran memiliki bersama yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan. Semakin besar wilayah tersebut, semakin miriplah bidang pengalaman (field of experience) yang dimiliki kedua pihak yang berkomunikasi. Bila kedua lingkaran pengalaman tidak bertemu maka komunikasi tidak mungkin berlangsung. Bila wilayah yang berimpit kecil, artinya pengalaman sumber dan pengalaman sasaran jauh berbeda, maka sangat sulit menyampaikan makna dari seseorang ke orang lain (Mulyana 2003).
c. Model komunikasi umpan balik sebagai lingkaran yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
Model ini merupakan penyempurnaan model Schramm sebelumnya yang menempatkan pentingnya umpan balik . Dalam proses komunikasi, setiap orang sekaligus sebagai encoder maupun decoder yang secara konstan menyandi balik tanda-tanda tersebut dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali dalam model lingkaran disebut umpan balik (feed back).
Umpan balik yang ada dapat berupa kata-kata sebagai jawaban maupun secara nonverbal seperti anggukan kepala dan gelengan kepala.


Model Berlo
Muhammad (1995) menjelaskan bahwa model David K. Berlo menekankan komunikasi sebagai suatu proses dan menekankan “meaning are in the people” atau arti pesan yang dikirimkan pada orang yang menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa interpretasi pesan terutama tergantung kepada kata atau pesan yang ditafsirkan oleh si pengirim atau si penerima.
Berlo menggambarkan kebutuhan penyandi (encoder) dan penyandi balik (decoder) dalam proses komunikasi. Encoder bertanggung jawab mengekspresikan maksud sumber dalam bentuk suatu pesan. Menurut Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor-faktor: keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan dan kode. Saluran berhubungan dengan panca indera: melihat, mencicipi, mendengar, menyentuh, membaui (Mulyana, 2003).


Penelaahan terhadap Model Komunikasi Berlo :
1. Sumber (Source)
Seorang baik sebagai sumber maupun penerima harus memperhatikan hal-hal berikut dalam berkomunikasi :
a. Keterampilan berkomunikasi (Communication skills) yang terdiri atas :
• Kemampuan sumber dalam menyusun tujuan komunikasi
• Kemampuan sumber dalam menterjemahkan pesan ke dalam bentuk signal atau ekspresi tertentu.
b. Sikap, terdiri atas :
• Sikap terhadap diri sendiri
• Sikap terhadap materi atau pesan
• Sikap terhadap penerima pesan (receiver) maupun sikap receiver terhadap sumber
c. Pengetahuan, meliputi :
• Pengetahuan sumber tentang receiver, media komunikasi yang sesuai, metode pendekatan yang sesuai serta pengetahuan tentang pesan.
• Pengetahuan receiver tentang sumber, media, maupun pesan.
d. Sistem sosial budaya, baik sumber maupun penerima harus memperhatikan sistem sosial budaya yang ada, yang meliputi :
• Norma yang dianut
• Sistem pengambilan keputusan (misal : terkait dengan inovasi bidang pertanian).
• Budaya yang berkembang dan dianut.
2. Pesan dikembangkan berdasar
• Kode pesan : penggunaan bahasa, gambar yang disepakati
• Isi : disajikan utuh atau terpotong ?
• Perlakuan : pesan dapat dicerna oleh kelima indera manusia ?
3. Saluran komunikasi yang digunakan hendaknya :
• Baik menurut sasaran
• Dapat diterima oleh banyak sumber maupun penerima
• Mudah digunakan oleh banyak sumber maupun penerima
• Lebih ekonomis
• Cocok dengan pesan (inovasi)


Mulyana (2003) mengidentifikasikan kelebihan dan keterbatasan dalam model Berlo ini. Salah satu kelebihan model Berlo, bahwa model ini tidak terbatas pada komunikasi publik atau komunikasi massa, namun komunikasi antar pribadi dan berbagai bentuk komunikasi tertulis. Model Berlo juga bersifat heuristik (merangsang penelitian) karena memperinci unsur-unsur yang penting dalam proses komunikasi. Model ini misalnya dapat memandu and meneliti efek ketrampilan komunikasi penerima atas penerimaan pesan yang dikirimkan. Atau jika sebagai pembicara mungkin mulai menyadari bahwa latar belakang pembicara akan mempengaruhi penerima pesan (receiver).
Sedangkan keterbatasan model Berlo ini menganggap bahwa komunikasi merupakan sebuah fenomena yang statis, disamping itu umpan balik yang diterima pembicara dari khalayak tidak dimasukkan dalam model grafiknya dan komunikasi non verbal tidak dianggap penting dalam mempengaruhi orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktops